Cara Mendongeng
Ditulis oleh Drs. Mohammad Fakhrudin, M.Hum   
Minggu, 18 Januari 2009 17:59
I. Pendahuluan

         Mendongeng/bercerita merupakan keterampilan berbahasa lisan yang bersifat produktif. Dengan demikian, mendongeng/bercerita menjadi bagian dari keterampilan berbicara. Keterampilan mendongeng sangat penting bagi penumbuhkembangan keterampilan berbicara bukan hanya sebagai keterampilan berkomunikasi, melainkan juga sebagai seni. Dikatakan demikian karena mendongeng memerlukan kedua keterampilan berbicara tersebut.
         Mendongeng adalah menceritakan dongeng, yakni cerita yang tidak benar-benar terjadi; terutama tentang kejadian zaman dulu yang aneh-aneh kepada pendengar. Berdasarkan pengertian ini, pendongeng dituntut mampu memanfaatkan sarana fisik berupa alat penghasil suara secara optimal. Malahan, jika mendongeng itu dilakukan di hadapan pendengar, ia dituntut pula mampu memanfaatkan sarana fisik lainya, yakni tubuh dan anggota tubuh untuk melakukan mimik dan pantomimik yang menarik.
         Baik mendongeng di hadapan pendengar maupun di radio tidak lepas dari pihak pendengar. Oleh karena itu, pendongeng harus beranggapan bahwa ketika mendongeng sesungguhnya ia sedang berkomunikasi dengan pendengar. Ini berarti bahwa ia harus menyadari apa yang didongengkannya mungkin didengarkan mungkin diabaikan oleh pendengar. Jadi, pendongeng harus menyadari bahwa ia mendongeng bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk pendengar.
         Ketika saya belajar di SD, mendongeng merupakan bagian dari kegiatan belajar yang selalu dapat saya ikuti tiap hari. Ada kegairahan pada kami setiap menyimak dongeng yang disampaikan oleh guru. Kami memperoleh tambahan pengalaman batin yang sangat banyak dan bermanfaat. Imajinasi kami berkembang. Keinginan kami pun tumbuh dan berkembang untuk mencontoh tokoh "idola" dan berusaha tidak mencontoh perbuatan tokoh jahat. Malahan, tumbuh pula keinginan menjadi penegak dan pembela kebenaran dan keadilan. Sementara itu, guru pun tampak bergairah.  Kadang-kadang disisipkannya kelucuan-kelucuan dan keharuan-kaharuan yang sangat mengesankan sehingga kami merasa bahwa menyimak dongeng menjadi salah satu bagian kebutuhan. Suasana itu terjadi hampir setiap menjelang pulang sekolah.
Kebiasaan menyimak dongeng sering pula dilakukan oleh anak ketika menjelang tidur. Orang tua selalu menyediakan waktu untuk mendongeng dan anak selalu meminta orang tua untuk mendongeng. Seakan-akan berlaku ungkapan "Tiada malam tanpa dongeng". Anak asyik menyimak, sedangkan orang tua asyik mendongeng. Anak tidur pulas setelah menyimak dongeng (kadang-kadang sebelum dongeng berakhir), sedangkan orang tua puas juga memandangi anak (cucu) yang tidur pulas.
         Mungkin sekarang ada perubahan drastis pada siswa dan guru dalam hal dongeng-mendongeng. Siswa tidak lagi merasa perlu menyimak dongeng dari guru karena dapat menyimak dan/atau membaca cerita dari sumber lain. Mungkin pula siswa sudah merasa lebih asyik dengan dongeng-dongeng asing yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang dapat dibacanya setiap saat, baik dengan membeli sendiri maupun dengan menyewa.  Di pihak lain, guru sendiri pun mungkin semakin merasa kalah bersaing atau tidak mempunyai waktu lagi untuk menambah khazanah dongeng apalagi secara kreatif mengarangnya. Semua itu hanya asumsi-asumsi yang masih harus diteliti kebenarannya. Sebaiknya, lupakan saja!
         Melalui makalah ini Anda dapat mempelajari ihwal mendongeng/bercerita. Diharapkan dengan mempelajari makalah ringkas ini dan berbagi pengetahuan dan pengalaman Anda mempunyai pengetahuan dan keterampilan mendongeng untuk kepentingan pendidikan bahasa dan akhlak.

II. Syarat-Syarat Pendongeng

         Berdasarkan sarana yang digunakan oleh pendongeng, syarat-syarat yang perlu diperhatikan sebagai pendongeng dapat diuraikan secara garis besar sebagai berikut.

A. Syarat Fisik
  1. Pendongeng harus mampu menggunakan penghasil suara secara lentur sehingga dapat menghasilkan suara yang bervariasi. Ia sama halnya dengan dalang. Ia harus mampu menyuarakan peran apapun dan adegan apapun. Suatu ketika ia dapat berperan, misalnya, sebagai pejabat. Berkenaan dengan perannya itu, ia harus mampu menghasilkan suara yang mantap dan bulat sehingga terdengar berwibawa. Namun, dalam suatu adegan mungkin sang pejabat itu harus bersuara dengan geram karena sangat marah dan kecewa. Nah, untuk menampilkan adegan tersebut ia harus mampu menghasilkan suara yang sesuai dengan tuntutan peran itu. Pada kesempatan lain mungkin ia harus memerankan nenek atau kakek yang kondisi fisiknya sangat susah. Ia pun harus mampu menghasilkan suara yang sesuai dengan peran itu pula. Jadi, jelas bahwa ia harus mempunyai kelenturan suara. Suara itulah yang menentukan keberhasilan pendongeng lebih-lebih lagi pendongeng di radio dan kaset.
  2. Pendongeng harus mampu menggunakan penglihatan secara lincah dan lentur sesuai dengan keperluan. Jika mendongeng di hadapan pendengar, ia harus menggunakan mata untuk kepentingan ganda. Pertama, mata digunakan untuk memperkuat mimik. Kedua, sarana itu digunakan pula untuk berkomunikasi dengan pendengar. Jika akan mendongeng dengan membacakan naskah, ia harus mempelajari naskah dongeng. Untuk keperluan itu, pemanfaatan mata secara lincah berarti penggunaan mata dengan gerak yang cepat untuk menangkap maksud naskah secara utuh. Dalam hal ini mata harus dapat dengan sempurna melihat semua huruf dan tanda baca yang ada sehingga tidak salah baca. Mata (di samping pendengaran) juga merupakan sarana fisik yang digunakan untuk berkomunikasi dengan produser, dan petugas yang lain jika mendongeng melalui radio. Dengan matanya ia dapat menangkap aba-aba sang produser kapan harus mulai, berhenti, mengakhiri kegiatan mendongeng (pembacaan naskah dongeng) atau instruksi-instruksi lainnya.
B. Syarat Mental/Rohani dan Daya Pikir
  1. Pendongeng harus bersikap mental serius, sabar, lapang dada, disiplin, taat beribadah, berakhlakul karimah, dan senang berkesenian. Semua sikap mental tersebut sangat diperlukan oleh pendongeng karena mendongeng (pembacaan naskah dongeng) memerlukan pemahaman yang sangat mendalam. Pemahaman dan penghayatan dilakukan dengan penuh keseriusan, kesabaran, dan kedisiplinan. Pendongeng harus berlapang dada karena mungkin menerima kritik dari pendengar atau dari pihak lain. Tanpa sikap mental berlapang dada, ia tidak akan menjadi pendongeng yang dari waktu ke waktu meningkat kemampuannya. Pendongeng harus berakhlakul karimah karena ia hidup sebagaimana manusia umumnya, yakni bergaul. Pendongeng yang berakhlakul karimah pasti disenangi dan menyenangkan.  Ia akrab dengan siapapun. Pergaulannya bersifat lintas etnik, lintas agama, dan lintas golongan. Tanpa sungkan-sungkan ia akan minta maaf jika melakukan kesalahan betapapun kesalahannya tidak disadari. Suasana pergaulan yang demikian dapat mengurangi atau malahan menghilangkan ketegangan dan ini jelas mengondisikan konsentrasi prima. Kondisi konsentrasi prima inilah yang sangat diperlukan dalam mendongeng. Sementara itu, ketaatan beribadah diperlukan karena menjadi pengontrol yang jitu dalam segala hal. Kekecewaan atau kekesalan yang dirasakannya dinetralkan melalui ketaatannya beribadah sebab pada saat beribadah ia pasrah kepada Sang Khalik. Ia kembali optimistis karena meyakini bahwa Sang Khalik merupakan sumber dari segala sumber kebajikan; kemampuan, kecerdasan, ketenangan, inspirasi, dsb. Kegemaran berkesenian menjadi modal yang sangat penting bagi pendongeng karena mendongeng berkaitan erat dengan seni. Mendongeng berkaitan dengan seni mengolah suara untuk menghasilkan suara yang indah didengar.
  2. Pendongeng harus berpikiran cerdas dan kreatif. Kecerdasan diperlukan karena pendongeng harus dapat menafsirkan isi (naskah) dongeng secara tepat. Ia tidak boleh menafsirkan isi (naskah) dongeng sesuai dengan kehendaknya tanpa memperhatikan ide dasar (naskah) dongeng. Ide dasar (naskah) dongeng itu tidak selalu disampaikan secara eksplisit. Di sinilah ia dituntut secara cerdas mampu menangkapnya. Dengan kecerdasannya juru wicara dapat mengelompok-ngelompokkan kata, frasa dan kalimat sehingga ide (naskah) dongeng secara utuh benar-benar dikuasainya dengan baik. Kreativitas diperlukan ketika mendongeng. Ia harus mampu secara kreatif mendongeng sehingga menarik. Jika membacakan naskah dongeng, kadang-kadang ia harus menambah kata-kata tertentu, tetapi kadang-kadang sebaliknya atau mungkin menggantinya yang lebih tepat. Malahan, pada saat berlangsungnya pembacaan naskah ia kadang-kadang perlu melakukan improvivasi yang menambah lebih tepat dan indahnya naskah yang dibacakannya.
  3. Pendongeng harus berpengetahuan umum luas dan berketerampilan bahasa (Indonesia). Pengetahuan umum sangat bermanfaat bagi pendongeng. Dengan memiliki pengetahuan umum yang luas, ia memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Ini sangat diperlukan oleh pendongeng. Rasa percaya diri dapat memantapkan mental pendongeng. Tambahan lagi, dengan pengetahuan umum yang luas itu pula ia dapat memberikan kritik terhadap kekurangan atau kesalahan yang mungkin terdapat di dalam naskah. Jika sempit pengetahuan umumnya, ia kurang percaya diri. Ini kurang menguntungkan. Penampilannya canggung. Sementara itu, keterampilan berbahasa sangat diperlukan karena dalam pelaksanaan tugasnya pendongeng berurusan dengan keterampil berbahasa, sekurang-kurangnya tiga keterampilan berbahasa, yakni menyimak, membaca, dan berbicara. Dua keterampilan yang sangat dominan ialah membaca dan berbicara. Keterampilan membaca diperlukannya ketika ia harus membacakan naskah dongeng. Dalam hal ini ia harus mampu menggunakan lafal dan intonasi yang benar dan indah. Benar berarti sesuai dengan kaidah, sedangkan indah berarti memperdengarkan nilai yang menyentuh aspek keindahan di telinga dan juga pada imajinasi.  Keterampilan berbicara diperlukannya ketika ia harus melakukan dialog sebab di dalam dongeng ada dialog antara pemeran yang satu dan pemeran yang lain. Hal yang demikian terdapat di dalam dongeng, baik yang disajikan dengan cara "melisankan langsung" maupun yang disajikan dengan membacakan naskah. Jika mendongeng dengan membacakan naskah dongeng, ia dituntut mampu membaca dengan gaya berbicara. Dengan kata lain, ketika membacakan naskah tersebut ia sesungguhnya berbicara atau meskipun membaca, sesungguhnya ia berbicara. Berkenaan dengan itu, ia harus mempunyai pengetahuan yang memadai tentang kaidah bahasa yang mencakupi kaidah fonologis (lafal dan ejaan), morfologis (bentuk kata: dasar dan turunan), sintaktis (frasa, klausa dan kalimat), dan kewacanaan (lisan). (Baca: "Kaidah Fonologis Vokal dan Diftong Bahasa Indonesia", dan "Penggunaan Bahasa dalam Program Audio/Radio")
III. Pelatihan yang Diperlukan

         Pelatihan yang dilakukan oleh pendongeng tidak hanya di tempat-tempat khusus, misalnya, sanggar atau padepokan, tetapi juga dalam kehidupan nyata. Pelatihan itu dilakukannya tanpa mengenal batas ruang dan waktu.

A. Pelatihan Fisik: Olah Kelenturan Tubuh secara Umum

         Mengolah kelenturan tubuh secara umum dilakukan dengan berbagai cara, misalnya, senam, pencak silat, tari, dan yoga. Untuk keperluan itu, sebaiknya dipilih jenis pelatihan tersebut secara variatif. Namun, perlu diperhatikan kondisi fisik masing-masing. Jenis yang cocok bagi seseorang, belum tentu cocok bagi yang lain. Hal ini sesuai dengan kebutuhan juru wicara masing-masing. Oleh karena itu, pelatihan dilakukan dengan cara yang benar dan sesuai dengan   takaran yang tepat.
Di bawah ini disajikan beberapa pelatihan fisik yang perlu dilakukan.

1. Materi Pelatihan Sikap
  • Berdirilah dengan tegap dan tekanan berat badan bertumpu pada telapak kaki bagian depan.
  • Dengan benar-benar santai, bungkukkan badan ke depan dan kedua tangan tergantung lunglai hampir menyentuh lantai.
  • Letakkan telapan tangan pada dada, punggung tangan kiri di punggung.
  • Tegakkan tubuh, kembangkan dada, punggung rata, pinggul tetap maju.
  • Sewaktu badan tegak kembali, otot-otot leher dibuat rileks, anggukkan kepala ke belakang, rahang rileks dan mulut terbuka. (Jika mulut terbuka, berarti ada ketegangan. Namun, jangan dipaksa untuk terbuka.)
  • Anggukkan kepala ke depan hingga dagu menyentuh leher dan mulut terkatup.
  • Lepaskan tangan hingga berada di kedua sisi badan. Pusatkan berat badan pada telepak kaki bagian depan dan melangkahlah maju dengan dada tetap tegap, kepala tegak, dan punggung rata.
2. Pelatihan Rileks
  • Tengadahlah, tundukkan, dan putarlah kepala tanpa menggerakkan bahu. Biarkan berputar dengan bebas tanpa ketegangan sedikit pun.
  • Putarlah bahu ke atas dan ke bawah ke depan dan ke belakang.
  • Gerakkan lengan dalam lingkaran lebar, pertama dekat tubuh, kemudian menjauh tubuh.
  • Putarlah tangan di bawah siku, dekat dan jauh dari tubuh.
  • Putarlah pergelangan tangan.
  • Gerakkan lengan secara horizontal dan vertikal dengan pergelangan tangan sebagai ujung (telapak tangan kita anggukan ke bawah sewaktu tangan kita julurkan secara horizontal).
  • Goncangkan tangan dengan kuat, tetapi tetap rileks.
  • Permain-mainkan kelima jari tangan. Berselang-seling jari kelingking, jari manis, jari telunjuk, jari tengah, dan ibu jari.
  • Kembangkan dan bentuklah kepalan tinju, berulang-ulang.
  • Anggukkan badan ke depan, ke belakang, dan ke samping.
  • Rapatkan kedua tangan ke tubuh dengan kepala tetap ada di antara kedua tangan.
  • Putarlah berganti-ganti kaki kanan dan kiri membentuk lingkaran, tendangkan ke udara setinggi-tingginya, ayunkan ke depan, dan ayunkan ke belakang.
  • Berjinjitlah, kemudian lipat lutut dan duduk di atas tumit.
  • Berganti-ganti putarlah pergelangan kaki kanan dan kiri.
  • Pungutlah kelereng dengan jari kaki.      
(Dimodifikasi dari Hamzah 1985)

3. Pelatihan Olah Vokal/Pernafasan

         Yang dimaksud degan pelatihan olah vokal/pernafasan di sini adalah melakukan kegiatan yang bersifat melatih sehingga diperoleh keterampilan membacakan naskah dengan benar dan indah. Dengan demikian, alat ucap yang menghasilkan bunyi-bunyi bahasa secara keseluruhan, baik vokal (dalam arti bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan tanpa hambatan), semi vokal, diftong, maupun konsonan harus memperoleh perhatian secara intensif.
a. o ? ? ? é ? u dengan urutan yang divariasikan dengan sebaliknya secara berkelompok dan/atau perseorangan dengan “senggakan”?, ?y,  ?w
Kelompok I     :     o ? ? ? é ? u
Kelompok II    :     ?
Kelompok III   :     u ? é ? ? ? o
Kelompok II    :     ?y
Kelompok I     :     o ? ? ? é ? u
Kelompok III   :     ?w

b. mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara terlepas-lepas, dengan memilih bunyi-bunyi kontras, misalnya,
    
P -- P -- P    K -- K - K
PP -- PP -- PP    KK -- KK -- KK
PPP -- PPP -- PPP    KKK -- KKK -- KKK
PPP -- BBB -- PPP    KKK -- GGG -- KKK

B -- B -- B     G -- G -- G -- G
BB -- BB -- BB    GG -- GG -- GG
BBB -- BBB -- BBB    GGG -- GGG -- GGG
BBB -- PPP -- BBB    GGG -- KKK -- GGG

c. mengucapkan bunyi-bunyi bahasa dalam kata-kata, misalnya,

mari kita beramai-ramai    pagi  pagi bagi bagi
pergi ke pantai    gaya kaya
bersantai     dagu daku
sambil berandai-andai    gerah kerah terbuka
menikmati satai dan gulai    tak berbaju berpacu waktu

di pantai nyiur melambai-lambai    di makam dia makan
rambut tergerai berjurai-jurai    harum kemenyan
badan semampai lemah gemulai    Yang Penyayang dibilang sayang saya
wow, hati kita tergadai    tetapi, tetap cara catat
wahai, duhai, amboi!    nah, tahan marah ganti ramah

di pulau hijau    suara saudara riuh
di propinsi Riau    mulut berbuih
kita terpukau terhimbau    lautan luapkan air
suara nurani     kau teriakkan kepedihan
berdiri sendiri    tubuhmu tak lagi mampu muat ruh
berpacu waktu    mautmu dijemput
mengamalkan ilmu     suka cita kala dulu kau lahir berakhir
kepulauan himbuan    kini ganti duka cita
kedamaian kegemulaian     tak  kuasa kau menahan
aku tak akan menyembunyikannya    sedetik detak jantung pun

jangan jadi robot    harus diingat di langit
tetapi tokoh berbobot    tak ada yang sisa dan sia-sia    
jangan membuat heboh    saitan sesatkan siapa saja
buatlah  diri berdiri kokoh    tetapi, orang takwa tidak

d. mengucapkan puisi, misalnya,
 
MENATAP OMBAK DI LAUT
(karya Ajib Hamzah)

Di pantai
Aku di pantai
Siang hari ini aku di pantai
Sendiri siang hari ini aku di pantai
Sendiri dalam terik siang hari aku di pantai.
Menatap ombak sendiri dalam terik siang hari ini aku di pantai
Menatap ombak dahsyat sendiri dalam terik siang hari ini aku di pantai.

BUNYI
(karya Ajib Hamzah)

Di malam sepi pecah bunyi-bunyi kecapi
pipi pipa papi papa pepaya
ya ya ya yang terpercaya tapi jauh dari mata
matahari hari hari dalam hujan turun dan lembayung
burung-burung sarang barang borongan buku bukan bakmi mi mi mi mihun

e. Gerakan-Gerakan untuk Pelatihan Vokal/Pernafasan
  1. Berkacak pinggang, menarik nafas dalam-dalam, rasakan dada mengembang
  2. Meletakkan kedua telapak tangan pada dada bagian bawah dan terengah-engahlah, tertawa tak bersuara, hirup udara dengan hidung dan hembuskan dengan perlahan, berbaringlah di lantai dan tarik nafas dengan dalam dan teratur -- dengan telapak tangan tetap di dada.
  3. Dengan telapak tangan tetap di dada, berdirilah tegak, tidak tegang, dan dalam sikap yang seimbang. Tarik nafas perlahan tanpa ketegangan untuk hitungan ke-6, dan hembuskan nafas perlahan sambil menghitung dalam angan-angan, pertama mencapai hitungan 15, kemudian 50, 25, 30, dan seterusnya. Hindari ketegangan.  
  4. Ulangilah pelatihan nomor 3 disertai bunyi o dan sh dari mulut. Bila tidak teratur hingga pada bagian akhir lemah, ulangi sampai teratur dan mempunyai kualitas yang sama.
  5. Lakukan satu tarikan nafas; coba berapa jauh dapat membaca puisi dalam satu tarikan nafas. Tetap dijaga jangan sampai tegang dan tetaplah rileks setelah pelatihan. Dengan demikian, kita memperoleh kemampuan pengendalian pernafasan.
(Dimodifikasi dari Hamzah 1985)

f. Berzikir dengan Mengatur Perhentian
  1. Ucapkan tasbih, tahmid, dan takbir. Mula-mula sepuluh kali hitungan berhenti untuk bernafas, kemudian tingkatkan berhenti pada hitungan ke-15, 20, 25, dan seterusnya.
  2. Lakukan zikir secara khusyuk, tetapi tidak menimbulkan ketegangan saraf.
(Catatan: pelatihan tersebut dapat dilakukan oleh pemeluk Islam, sedangkan pemeluk agama lain dapat melakukan pelatihan tersendiri)

g. Materi Pelatihan Tenggorokan
  1. Menguaplah dengan bebas sehingga terasa tenggorokan terbuka dan tidak tegang.
  2. Tariklah nafas sedalam-dalamnya, rahang tetap rileks, dan berpikirlah bahwa tenggorokan Anda terbuka lebar. Kemudian, hembuskan nafas pelan-pelan.
  3. Katakan, “Aku dapat berkata seolah-olah aku akan menguap. Dengarlah! Aku berkata seolah-olah aku akan menguap.”
  4. Ucapkan, “Lo-la-lé -la-lo” dengan lambat laun bertenaga untuk tiap pengulangan. Bunyi huruf hidup hendaknya jelas. Rahang rileks. Kemudian nyanyikanlah. Tingkatkan volume suara dengan bernafas dalam, tetapi tenggorokan tidak tegang.
  5. Nyanyikan dengan tenggorokan tetap terbuka la-la-la-laf-la-la-la-los-la-la-la-lof.
h. Materi Pelatihan Rahang
  1. Biarkanlah kepala mengangguk pada dada, angkat kepala pelan-pelan ke atas dan ke belakang, biarkan rahang tetap tergantung. Anggukkan lagi dan pelahan putarlah kepala dari kiri ke kanan membentuk lingkaran dengan tetap rileks.
  2. Anggukkan kepala ke depan lagi. Tempatkan telapak tangan pada kedua pipi dan angkatlah kepala dengan tangan, rahang tetap rileks, hindari menggunakan otot-otot rahang. Ketika kepala terangkat, mulut akan terbuka dan rahang kendur. Usahakan tanpa ekspresi sama sekali untuk membuat rileks.
  3. Ucapkan dengan ringan, ceria, gembira, dan rileks: da - da - da - da - da, kemudian la - la - la - la - la.
i. Materi Pelatihan Bibir
  1. Ucapkan : u - o - ? - a dengan membuka mulut dari kecil sampai yang paling lebar. Kemudian ucapkan sebaliknya: a - ? - o - u
  2. Ucapkan : mé - mo - mé - mé - mé – mo
  3. Ucapkan : ? … ? … ? … ?  … ? mb ? r
k. Materi Pelatihan Lidah
  1. Ucapkan : fud - fud - fud - fud - dah - fud - fud - fud -  fud - dah - fud - fud - fud - fud - fril
  2. Ucapkan : ?y - ?y - ?y  – sé ri
(Dimodifikasi dari Hamzah, 1985)

B. Pelatihan Mental/Rohani dan Daya Pikir

         Beberapa sarana mental/rohani dan daya pikir yang perlu dilatih dapat dikemukakan secara garis besar sebagai berikut.

1. Pelatihan Konsentrasi
  1. berzikir
  2. memejamkan mata dan berusaha memusatkan segala daya hanya pada satu titik perhatian
Gangguan terhadap konsentrasi sering muncul karena hal-haal berikut:
  1. kurangnya atau rendahnya minat,
  2. keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan,
  3. ada urusan-urusan (kecil) yang belum terselesaikan,
  4. kesenadaan suasana, dan
  5. gangguan kesehatan
2. Pelatihan Kecerdasan
  1. membaca buku ilmu pengetahuan umum dan agama
  2. berdiskusi tentang berbagai hal

3. Pelatihan Seni
  1. membaca berbagai karya sastra, baik kreatif maupun teoretis
  2. menonton berbagai pementasan seni
  3. mencipta karya seni
  4. memainkan/mementaskan karya seni
IV. Mendongeng di Hadapan Pendengar, di Panggung/Kelas

         Mendongeng di hadapan pendengar menggunakan sarana fisik secara utuh, baik yang dimiliki secara fisik maupun yang disediakan di luar diri pendongeng. Sarana fisik pendongeng telah dikemukakan pada bagian awal. Oleh karena itu, yang perlu dikemukakan pada bagian ini ialah sarana fisik yang ada di luar pendongeng itu sendiri. Beberapa sarana fisik di luar fisik pendongeng itu sendiri terdiri atas panggung, benda-benda properti dan pendengar.

A. Mengenal Wilayah Panggung dan Wataknya
        
         Ada dua hal yang perlu dipahami berkaitan dengan panggung, yakni (1) arah panggung dan (2) wilayah panggung. Arah panggung terdiri atas kanan (Kn), kiri (Kr), garis tengah (T), layar (L), dinding (wing), tangga (T), upstage, downstage, offstage, dan onstage. Jika digambar, arah panggung tampak sebagai berikut.
    
        G    C    H       
        J     
        A    B            E
        D
        F

         Panggung mempunyai watak. Secara tradisional, panggung dibagi menjadi enam wilayah. Tiap wilayah mempunyai watak. Itulah sebabnya tiap wilayah panggung mempunyai fungsinya masing-masing. Berkenaan dengan itu, pemain drama pangung harus memanfaatkan panggung sesuai dengan watak wilayah tersebut. Dengan cara demikian adegan yang ditampilkan benar-benar mencapai tujuan.
Keenam wilayan panggung tersebut tampak pada bagan di bawah ini.

Keterangan Watak Panggung:
  1. Kanan Atas (KnA): adegan-adegan kecil yang tidak penting, baik dilakukan di sini. Watak wilayah ini lembut, lemah, dan jauh.
  2. Tengah Atas (TA): meskipun jauh dan dingin, cukup kuat. Daerah ini baik untuk memulai suatu adegan penting yang bakal bergerak ke bawah; untuk memulai suatu adegan baru.
  3. Kiri Atas (KrA): lembut, jauh. Untuk adegan tidak penting; sama dengan KnA, tetapi lebih lemah. Daerah ini amat efektif untuk adegan-adegan horor, adegan-adegan hantu sebab daerah ini mengungkapkan kualitas dunia abstrak.
  4. Kanan Bawah (KnB): akrab, hangat, kuat. Wilayah ini tepat sekali untuk adegan percintaan ataupun perikemanusiaan, cinta kasih. Karena konotasinya dengan hati dan iklim rumah tangga, setting pada banyak repertoir Barat menempatkan perapian di daerah ini.
  5. Tengah Bawah (TB): daerah ini paling kuat, penuh tekanan, agung. Wilayah ini biasa digunakan pada saat kekuatan-kekuatan dalam cerita saling berhadapan.
  6. Kiri Bawah (KrB): petak ini sebenarnya berkualitas sepereti KnB, tetapi lebih lemah. Wilayah ini amat baik untuk tindak lanjut dari adegan-adegan yang sudah dimulai pada KnB. Namun, ciri wilayah ini adalah untuk adegan-adegan “penuh rahasia”, skandal, cemburu, dll.
B. Mengenal Properti
 
         Properti adalah segala benda yang dimanfaatkan sebagai kelengkapan pementasan, baik yang diletakkan di panggung maupun dibawa oleh pemain. Yang diletakkan di panggung misalnya meja kursi, kapstok, dan mungkin tempat tidur. Yang dibawa pemain misalnya adalah sisir, pisau, dan senjata. Semua itu harus dikenal menurutnya fungsinya, tidak hanya hanya fungsi primernya, tetapi juga fungsi primer. Fungsi primer ialah fungsi utama. Kursi, misalnya, mempunyai fungsi preimer untuk duduk. Namun, benda itu mempunyai sekunder bermacam-macam; mungkin untuk menyimpan sesuatu, menangkis serangan pukulan lawan main, berlindung, dan menjadi alat untuk melampiaskan kemarahan.
 
C. Mengenal Berbagai Watak Tokoh Dongeng
 
         Pengenalan terhadap tokoh mencakupi tiga dimensi, yaitu (1) fisiologis, (2) sosiologis, dan (3) psikologis. Yang termasuk dimensi fisiologis di antaranya adalah jenis kelamin, umur, dan postur tubuh. Yang termasuk dimensi sosiologis di antaranya adalah pergaulan, status sosial, dan aktivitas sosial. Yang termasuk dimensi psikologis di antaranya adalah cita-cita, masa lalu, dan wataknya. Jadi, pengenalan terhadap pemain lain tidak hanya sebatas mengenal nama.
 
D. Mengenal Akting
 
         Akting merupakan gerak-gerik pendongeng, baik mimik maupun pantomimik, di pangung/ kelas untuk mengekspresikan atmosfir dongeng dan watak pemain. Jadi, akting hakikatnya penampilan pendongeng secara utuh di pangung/kelas. Dengan akting itulah pendongeng tampak sedih, gembira, benci, dendam, dll.
         Sarana yang digunakan untuk berakting ialah tubuh dan anggota tubuh dengan bagian-bagiannya. Untuk mengekspresikan kesedihan biasanya orang menangis. Nah, sarana yang digunakan untuk menangis misalnya mulut, mata, hidung, dan tangan.
 
E. Mengenal Gesture dan Business
 
         Gesture hakikatnya gerak (anggota) tangan yang berkecil-kecil yang dimaksudkan untuk memperkuat akting dalam rangka mengekspresikan watak atau keadaan emosi tertentu. Misalnya, pada saat mendongeng, pendongeng mempermainkan jarinya ke hidung, mulut, ke kepala, dll. Mungkin juga ia menggerak-gerakkan jarinya ke kursi, meja, atau benda-benda lain pada saat gelisah.
         Business merupakan gerak pendongeng yang dilakukan untuk memperkuat adegan dan akting. Misalnya, untuk menggambarkan kegelisahan, pendongeng berjalan mondar-mandir atau merokok.
 
F. Mengenal Ekspresi Wajah
 
         Yang sangat penting peranannya untuk ekspresi wajah ialah mata. Untuk menunjukkan berbagai eksrepsi emosi matalah yang sangat dominan. Orang marah, gembira, atau bingung dsb. dapat ditunjukkan melalui pandangan pendongeng. Sementara itu, mulut memperkuat peranan mata. Oleh karena itu, kedua sarana itu harus dilatih secara teknis agar dapat berfungsi secara optimal dan lentur.
 
G. Mengenal Posisi dan Gerak Kaki
 
         Kaki mempunyai fungsi memperkuat watak dan emosi pendongeng. Dengan posisi tegak lurus, misalnya, kaki mempunyai fungsi mengekspresikan emosi tertentu; mungkin sedang mengekspresikan ketegasan sikap ketika menghadapi masalah. Dengan posisi lain, ada maksud lain pula yang diekspresikan.
Gerak kaki bermacam-macam. Namun, yang perlu diingat ialah kesesuaiannya dengan watak dan kondisi emosi yang diperankannya. Dalam kondisi gelisah, misalnya, gerak kaki tidak terarah. Gerakan kaki dalam kedaan normal yang lazim ialah melangkah maju. Namun, dalam keadaan terdesak, takut, atau terkejut kaki dapat digerakkan mundur.
 
V. Mendongeng di Radio

         Sesuai dengan karakteristik radio, mendongeng di radio lebih menuntut sarana fisik berupa suara (atau vokal) dan imajinasi. Suara yang digunakan oleh pendongeng itulah yang menjadi sarana  untuk menghadirkan watak, suasana kejiwaan tokoh, dan keadaan atau peristiwa tertentu.  Sementara itu, imajinasi pendongeng berfungsi sebagai sarana untuk merangsang pancaindra sehingga mampu menghadirkan tokoh secara tepat dan menghadirkan peristiwa yang didongengkan.
         Ketika mendongeng di radio, suara tidak sekadar berfungsi untuk menggambarkan suasana kejiwaan tertentu sang tokoh, misalnya, sedih, gembira, kecewa, bangga, sinis, sombong, atau kesal, tetapi juga untuk membangkitkan imajinasi pendengar. Di dalam sandiwara radio betapa hebatnya pengaruh warna suara Ferry Fadli terhadap imajinasi pendengar mengenai tokoh, misalnya, Brahma Kumbara. Dengan warna suara yang mantap, Ferry Fadli berhasil membentuk imajinasi pendengar mengenai sosok fisik tokoh tersebut. Pendengar membayangkan tokoh tersebut bertubuh tinggi besar dan berpenampilan penuh kewibawaan bahkan sangat mungkin timbul bayangan pada pendengar bahwa Ferry Fadli bertubuh tinggi besar dan berwibawa. Namun, bayangan tersebut tidak seluruhnya betul. Dalam sinetron atau film layar lebar pemeran Brahma Kumbara memang diperankan oleh orang yang bertubuh tinggi besar dan berwibawa, tetapi Ferry Fadli itu sendiri bertubuh kurus.
         Ketika mendengar teriakan Eny Ermawati, pemeran tokoh Mantili, “Ciaaat!”, pendengar drama radio membayangkan Mantili meloncat dengan gesitnya sambil menghunus pedang. Ketika mendengar suara, misalnya, “Kakang Mas” kemudian dijawab, “Oh, Di Ajeng”  yang diucapkan dengan desah mesra oleh dua tokoh berlainan jenis, dan mendengar kicau burung yang menggambarkan suasana bahwa tidak orang lain kecuali hanya dua sejoli itu dan burung itu saja, atau mendengar bunyi jengkerik yang menggambarkan suasana malam di suatu tempat tertentu, pendengar membayangkan tindakan kedua tokoh tersebut. Mungkin terbayang kedua sejoli itu sedang berpelukan mesra, tangan tokoh pria  membelai rambut tokoh wanita. Jika pemeran tidak menggunakan imajinasinya, timbul kejanggalan.
         Pelatihan mendongeng di radio dilakukan dengan melatih semua sarana yang digunakan sebagaimana yang diuraikan di atas. Di samping itu, pendongeng perlu pula berlatih sebagai berikut.

A. Mengenal Properti
 
         Yang harus dikenali betul oleh pendongeng adalah mikrofon. Pendongeng harus mengatur jarak antara mulut dan mikrofon. Di samping itu, pendongeng harus dapat juga menghadapkan mulutnya secara tepat.  Untuk menggambarkan percakapan pada jarak dekat, mulut berada pada jarak sekitar lima belas sentimeter. Namun, untuk menggambarkan percakapan pada jarak jauh, mulut berada pada jarak yang cukup jauh atau malahan tidak mengarah lurus pada mikrofon.
 
B. Mengenal Setting
 
         Pendongeng harus memahami kapan dan di mana adegan terjadi. Pemahaman ini sangat penting karena ia harus membangkitkan imajinasi pendengar sesuai dengan adegan itu. Jika suatu adegan terjadi di kamar tidur pada malam hari dalam suasana mesra, ia mendongeng harus dengan memperhatikan setting itu. Ia dituntut dapat membayangkan dirinya sedang berada di tempat tidur sambil berbaring di samping tokoh lain. Selanjutnya, ia pun membayangkan secara detail apa saja yang lazim  ada di tempat tidur dan apa pula yang lazim dilakukan dalam bermesraan. Dengan demikian, ia dapat mendongeng sesuai dengan tuntutan dongeng. Lain lagi jika peristiwa itu terjadi di pantai; apa yang diimajinasikan pendongeng tentu bukannya tempat tidur, melainkan deburan ombak, pasir, burung camar atau benda-benda lain yang lazim ada di pantai. Oleh karena itu, ketika mendongeng, ia harus memperhatikan semua itu agar adegan itu hadir pada pendengar secara utuh.
 
VI. Memahami Naskah Dongeng

         Ada bebarapa langkah yang perlu kita tempuh dalam memahami naskah dongeng, baik memahami naskah dongeng panggung/kelas maupun memahami naskah dongeng radio. Secara umum pada dasarnya ada kesamaan langkah, yakni sebagai berikut.
  1. membaca naskah secara keseluruhan untuk memperoleh gambaran umum mengenai cerita;
  2. membaca naskah secara detail adegan demi adegan untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai (a) tema cerita, (b) sifat dan jenis dongeng (komedi, tragedi, atau tragedi komedi), (c) alur (bagian-bagian alur dari awal sampai akhir: memahami suspens, foreshadowing, dan surprise), (iv) tokoh dan penokohan (memahami tiga dimensi penokohan, yakni dimensi fisiologis, sosiologis, dan psikologis, juga memahami status atau sifat tokoh: realitas formal atau realitas imajiner), (v) setting (latar waktu dan tempat), (vi) dialog/narasi (bermakna lugas atau kias, bagian-bagian penting dialog/narasi), dan (vii) petunjuk penulis naskah (kalau ada);
  3. menanyakan hal-hal yang belum jelas kepada pengarang (kalau perlu dan dapat);
  4. mencari personifikasi peran dengan melakukan observasi (baik observasi nonpartisipasi maupun observasi partisipasi) dan kreativitas  berpikir dan berimajinasi.
VII. Petunjuk Praktis

Langkah-Langkah Mendongeng:
  1. Menguasai dongeng secara utuh
  2. Berdiri pada posisi yang strategis dan variasikan sesuai dengan alur dongeng (Jika mendongeng melalui radio, yang perlu diperhatikan adalah: sesuaikan watak suara dengan watak mikrofon, posisikan mulut kira-kira sepuluh sentimeter di depan mikrofon, tetapi pada saat menggambarkan adegan tertentu mulut dapat didekatkan atau dijauhkan)
  3. Berkonsentrasi sebelum memulai
  4. Mengondisikan siswa siap mendengarkan
  5. Mulai mendongeng dengan cara yang benar dan indah
  6. Melanjutkan dongeng sesuai dengan alur dan berimprovisasi secara kreatif dengan penuh penghayatan (gunakan warna suara yang bervariasi sesuai dengan watak dan kondisi emosi tokoh dongeng dan tampillah dengan akting yang benar dan indah)
  7. Mengakhiri dongeng dengan cara yang benar dan indah
VIII. Catatan Penutup

         Mendongeng memerlukan keterampilan menggunakan sarana fisik, mental/rohani, dan daya pikir. Keterampilan itu memerlukan pelatihan secara serius. Oleh karena itu, pendongeng harus berlatih.
         Mendongeng berkaitan dengan seni. Itu sebabnya bakat seni sangat berperan. Namun, untuk kepentingan pendidikan keterampilan berbahasa, mengapresiasi seni, dan pendidikan akhlak, setiap guru sesungguhnya dituntut mempunyai keterampilan mendongeng, dan keterampilan itu dapat dimilikinya asal ia mau berlatih serius.

Daftar Pustaka

Ahmadi, Mukhsin. 1990. Strategi Belajar-Mengajar Keterampilan Berbahasa dan Apresiasi Sastra. Malang: YA3.
Ali, Muhammad. 1987. Technik Menulis Skenario Drama Pentas, Drama Radio, Drama Teve. Surabaya: Bina Indra Karya.  nirun, Suyatna. 1990. “Suara, Kendaraan Imajinasi.” Makalah disajikan dalam Lokakarya Pengembangan Teater di Perguruan Tinggi. Bandung: Unit Teater Mahasiswa IKIP Bandung.
Fakhrudin, Mohammad. 1994. "Antara Realitas dan Imaji di dalam Drama" dalam Surya. Nomor 18, (Juni, V): 1-10.
Fakhrudin, Mohammad. 1999. "Kaidah Fonologis Vokal dan Diftong Bahasa Indonesia" dalam Surya. Nomor 38 (Juni, IX): 1-13.
Fakhrudin, Mohammad. 2000. "Berteater secara Total" (Diktat) Purworejo: Universitas Muhammadiyah Purworejo.
Fakhrudin, Mohammad. 2002. "Penggunaan Bahasa dalam Program Audio/Radio" Makalah disajikan dalam Pelatihan Penulisan Naskah dan Produksi Program Audio/Radio yang diselenggarakan oleh Balai Teknologi Komunikasi dan Perpustakaan Sekolah Dinas P dan K Jawa Tengah 27 s.d. Agustus 2002 di Semarang.
Hamzah, A. Ajib. 1985. Pengantar Bermain Drama. Bandung: Rosda.
Harymawan, R.M.A. 1988. Dramaturgi. Bandung: Rosda.
Iskandar, Eddy D. 1999. Panduan Praktis Menulis Skenario. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Majalaya, Ismet. 1990. “Sang Aktor dan Tubuhnya.” Makalah disajikan dalam Lokakarya Pengembangan Teater di Perguruan Tinggi. Bandung: Unit Teater Mahasiswa IKIP Bandung.
Padmodarmaya, Pramana. 1973. “Pola Pembinaan Seorang Pemeran” Semarang: KGTS.
Padmodarmaya, Pramana. 1988. Tata dan Teknik Pentas. Jakarta: Balai Pustaka.
Prasmadji, R.H. 1984. Teknik Menyutradarai Drama Konvensional. Jakarta: Balai Pustaka.
Rendra, W.S. 1976. Tentang Bermain Drama. Jakarta: Pustaka Jaya.
Stanislavski. 1980. Persiapan Seorang Aktor. Terjemahan Asrul Sani. Jakarta: Pustaka Jaya.
Subroto, Darwanto Sastro. 1994. Produksi Acara Televisi. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Tambojong, Jopi. 1981. Dasar-Dasar Dramaturgi. Bandung: Pustaka Prima.
Tarigan, H.G. 1987. Berbicara sebagai suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Umari, Darius. 1982. “Menulis Skript Drama/Sandiwara Radio." Makalah disajikan dalam Lokakarya Penulis Naskah Drama/Sandiwara Radio,17 September 1982. Jakarta: Badan Pembinaan Pendidikan Kependudukan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Wijaya, Putu. 1990. “Naskah (Gagasan dan Pengalaman).” Makalah disajikan dalam Lokakarya Pengembangan Teater di Perguruan Tinggi. Bandung: Unit Teater Mahasiswa IKIP Bandung.

Lampiran:  Sungai Jernih

         Di suatu desa tinggal seorang janda. Dia hidup bersama dua anaknya yang masih kecil. Yang sulung Buyung namanya. Umurnya sekitar sepuluh tahun. Yang bungsu Upik namanya. Umurnya sekitar tujuh tahun. Kedua anak itu sangat manja. Apa yang mereka inginkan mesti terjadi. Apa yang mereka mau harus ada. Pada suatu hari ibunya ingin menghadiri hajatan di tetangga desa.
"Mak, aku ikut …" rengek si Sulung.
"Iya … Mak. Aku juga aikut …" si Bungsu turut merengek sambil memegang kain ibunya.
"Aduh, Buyung … Upik … tinggallah di rumah. Kalian tak usah ikut…," jawab si Ibu.
"Pokoknya … ikut!" kata si Sulung.
"Iya, Mak! Ikut … ikut!" pinta si Bungsu hampir menangis.
Ibu itu akhirnya tak dapat menolak rengekan kedua anaknya. Mereka pergi bersama diantar dengan bendi oleh bujangnya.
"Tong … tong … tong …" terdengar musik tongtong begitu mereka tiba di tempat hajatan.

Lampiran: Dongeng
 
Kumang

         Dahulu kala ada seorang gadis cantik bernama Kumang. Ia tinggal bersama anjingnya di sebuah rumah di tengah hutan. Untuk menopang hidupnya sehari-hari ia rajin menjala ikan dari pagi hingga petang. Pada suatu hari, tidak seperti biasanya, tak seekor ikan pun menyangkut dalam jalanya. Padahal, hari sudah mulai senja. Ditebarkannya sekali lagi jalanya ke sungai. Ketika jalanya diangkat, tampak seekor ular kecil yang tak berdaya tersangkut di dalamnya. Diambilnya ular itu, dibawanya pulang dan dipiaranya ular itu dalam sebuah tempayan cina yang besar.
         Ular kecil itu tumbuh menjadi ular besar. Akhirnya, jadilah ular itu seekor naga yang besar dan menakutkan. Naga itu dibiarkannya tinggal dalam rumah sebab tempatnya tinggal semula sudah tidak muat lagi dengan tubuhnya itu.
"Wahai. Naga, mengapa kau makan terlalu banyak? Kata Kumang. Naga itu diam saja, hanya semburan api yang tampak keluar dari mulutnya. "Semua milikku telah kujual untuk membeli makananmu. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi," keluh Kumang.
Tiba-tiba naga itu berkata, "Sebesar apakah jantungmu, Kumang?" Kumang terlonjak kaget sebab selama ini belum pernah mendengar naga itu dapat berbicara. Lama baru Kumang dapat menjawab, "Jantungku hanya sebesar daun kecil."
"Maafkan aku," kata naga. "Aku lapar. Aku ingin makan jantungmu."
"Baiklah, kata Kumang." Aku rela jika kau ingin makan jantungku. Tapi carilah dulu sebatang bambu. Nanti masukkan jantungku ke dalam lubang bambu itu, campurlah dengan beras, kemudian panaskan bambu itu di atas api. Dengan cara begitu, kau akan merasakan betapa lezat jantungku nanti."
Selagi naga pergi mencari bambu. Kumang pergi dengan meninggalkan pesan kepada anjingnya. "Jika naga kembali, katakan padanya aku pergi dan takkan kembali dalam waktu yang cepat."
Kumang lari ke kebun karet milik tetangganya, Danjal. Dipanjatnya pohon yang tinggi. Diguyurnya batang pohon itu dari atas dengan minyak. Setelah itu, duduklah ia di dahan besar pohon itu.
         Tidak lama kemudian, kembalilah naga dengan membawa seruas bambu. Marahlah ia setelah mendengar pesan yang disampaikan oleh anjing si Kumang. Segeralah jejak Kumang diikuti. Sampailah naga itu di bawah pohon tempat Kumang bersembunyi. Dipanjatnya pohon itu. Tapi karena pohon itu licin terguyur minyak, naga itu tidak dapat meneruskan usahanya. Ditunggunya Kumang di bawah pohon. "Dia takkan dapat bertahan di atas pohon," gumam naga itu.
         Tak lama kemudian, datanglah Juara, teman Danjal, ke kebun karet itu. Ia mendengar suara kecil memanggilnya dari atas pohon," Juara, katakan pada Danjal agar membakar kebun karet ini sebab semua pohon karet di sini sudah tua. Tahun mendatang ia dapat menanami kebunnya lagi dengan pohon-pohon karet baru."
         Kemudian Juara mendengar suara lain, agak berat dan menyeramkan. "Jangan kau lakukan itu, Juara! Bila pohon-pohon di sini dibakar, Danjal akan menderita kerugian yang sangat besar."
Juara ketakutan mendengar suara-suara yang bertentangan itu. Suara pertama mirip suara peri dan yang kedua seperti suara hantu jahat yang menakutkan. Lalu, larilah ia ke rumah Danjal.
"Ada apa?" tanya Danjal. "Kau seperti habis melihat hantu."
Juara menceritakan semua yang didengarnya kepada Danjal.
"Baiklah," kata Danjal, "jika peri menyuruh membakar semua pohon karetku, aku yakin, pasti maksudnya baik. Kalau begitu, akan mematuhinya."
         Bersama dengan Juara, Danjal membakar kebun karetnya. Sewaktu mereka melihat-lihat bekas kebun karetnya pada keesokan harinya, beristirahatlah mereka, duduk di batang pohon yang hitam karena terbakar. Danjal membelah kelapa yang dibawanya dengan golok untuk diminum airnya sebagai penawar rasa dahaganya. Sesudah itu goloknya ditancapkan ke batang pohon hitam tempat duduknya, tetapi, tiba-tiba dilihatnya darah menyembur dari batang pohon tempat golok itu tertancap. Segera ia dan Juara tahu bahwa yang disangka batang pohon itu sebenarnya seekor naga yang mati terbakar. Danjal kemudian melihat buah aneh di cabang sebatang pohon tinggi yang masih berdiri tegak. Ia heran pohon itu tidak ikut terbakar. Juara mencoba memanjat pohon itu, tetapi tak dapat karena licin oleh minyak. Tetapi dengan berkali-kali mencoba, akhirnya mereka dapat memetik buah aneh itu dan dibawanya pulang.
"Aku belum pernah melihat buah seperti ini," kata Danjal. "Buah ini lunak dan berwarna merah muda." Ia meletakkan buah itu di tempat tidur dalam kamarnya. Waktu ia dan Juara makan malam, terdengar seseorang menyanyi dari dalam kamarnya. Mereka masuk ke dalam kamar. Dilihatnya buah itu memancarkan sinar keemasan.
"Tutup mata kalian!" kata sebuah suara kecil. "Aku akan menghilang. Sampai hitungan kedua puluh, baru kalian boleh membuka mata."
Danjal dan Juara memejamkan mata mereka. Saat mereka membuka mata, buah itu telah terbelah. Mereka melihat Kumang duduk tersenyum di atas tempat tidur. Katanya, "Kalian tak perlu takut. Biarkan aku menceritakan apa yang telah kualami."
         Selesai Kumang bercerita Danjal berkata, "Kau amat beruntung, Kumang. Aku tahu kejadian itu membuatmu sangat ketakutan. Kini semua telah berlalu. Naga jahat itu telah mati terbakar. Menurut pendapatku, sebaiknya kausudahi hidup menyendiri. Maukah kau kujadikan istriku dan hidup di rumah ini bersamaku?"
Akhirnya, Kumang diperistri oleh Danjal. Mereka hidup bahagia sampai akhir hayat mereka.
 
(Dikutip dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi hlm. 1.18-1.20)
 
Download artikel di sini - download