Kontradiktif Ternak Hasil Kloning
Ditulis oleh Dedy Winarto, S.Pt, M.Si   
Minggu, 23 Mei 2010 11:19
         Seperti diketahui, sejak keberhasilan pengkloningan seekor domba betina Dolly pada tahun 1996, Uni Eropa diperkirakan telah berhasil mengkloning sekitar 100 ekor hewan ternak termasuk di antaranya mengkloning kuda pacuan. Sedangkan Jepang, sejak tahun 1998 jumlah sapi hasil kloning yang dipelihara lebih dari 550 ekor. Disamping sapi, mereka juga memelihara sejumlah babi dan kambing hasil kloning untuk tujuan penelitian.
         Sebenarnya apa sih kloning itu? Kloning merupakan teknologi reproduksi untuk memperoleh keturunan tanpa melalui pembuahan sel sperma dengan ovum seperti lazimnya perkawinan pada umumnya. Kloning terjadi dengan cara menggandakan (membuat tiruan) DNA yang diambil dari sel tubuh bagian tertentu. DNA tersebut lalu diletakkan di dalam sel telur (ovum) makhluk hidup lain dari spesies yang sama. Segera setelah itu, telur diberikan kejutan (listrik) yang sesuai sehingga telur tersebut langsung mulai membelah diri membentuk embrio. Embrio yang dihasilkan kemudian diletakkan dalam rahim, tempat dimana embrio tersebut akan terus membelah diri, tumbuh dan berkembang serta akhirnya dilahirkan.

Pro dan Kontra

         Kemajuan bidang bioteknologi semakin pesat khususnya dengan ditemukannya teknologi reproduksi kloning yang berhasil mengkloning berbagai jenis hewan termasuk diantaranya hewan ternak. Namun, keberhasilan kloning pada ternak ini tidak sepenuhnya bisa diterima begitu saja oleh masyarakat dunia. Ada pro dan kontra tentang keamanannya jika dikonsumsi manusia serta etika produk-produk ternak hasil kloning ini. Bagaimana dengan sikap Indonesia sendiri apabila ada impor daging, susu, dan produk ternak lainnya yang berasal dari ternak hasil kloningan, menerima atau menolaknya?
         Di negara lain seperti Amerika Serikat misalnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) menyatakan bahwa daging olahan ternak hasil kloning sama aman dengan hewan ternak biasa. Namun, keputusan itu justru menimbulkan kekhawatiran sebagian masyarakat di negeri itu. Masyarakat berasumsi pemerintahan Washington kurang menimbang hal itu dari segi sisi keamanan dan implikasi etika.
         Berbeda halnya dengan negara-negara di Eropa. Regulator Uni Eropa masih mendiskusikan kembali tentang kelayakan hewan ternak hasil kloning untuk dikonsumsi manusia. Perdebatan mengenai hewan ternak kloningan tersebut terkait belum adanya kepastian apakah aman untuk dikonsumsi manusia. Selain itu, teknologi kloning masih mendapat pertentangan dari sejumlah kalangan, khususnya dari para pemuka agama. Teknik peleburan sel tersebut dianggap melawan kehendak Tuhan.
         Namun, para pendukung teknik kloning mengungkapkan, teknik tersebut dapat membantu meningkatkan ketahanan pangan. Kloning hewan ternak dapat meningkatkan produksi susu dan menambah persediaan daging. Meskipun belum ada penelitian secara detail, para peneliti Eropa mengklaim jika hewan tersebut layak untuk dikonsumsi.
         Oleh karena masih dalam perdebatan dan belum ada titik temu, Uni Eropa terpaksa menunda aturan konsumsi hewan ternak kloningan. Namun, menurut Komisi Eropa hingga saat ini di Eropa baru Denmark yang telah mengadopsi aturan mengenai pengkloningan hewan yang memuat semua aturan termasuk tujuan kloning.
         Sebagai tindak lanjutnya, Komisi Uni Eropa meminta European Food Safety Authority (EFSA) untuk melakukan penelitian lebih mendalam agar Uni Eropa dapat membuat aturan yang tepat mengenai teknologi kloning. Bulan Juli silam, sebenarnya EFSA telah memberikan masukan yang menyatakan jika Hewan kloning tidak aman untuk dikonsumsi, namun diakui penelitian hanya menggunakan sedikit data dan belum dilakukan penelitian yang mendalam. Lain halnya dengan Kelompok studi dari lembaga keamanan pangan Jepang menyatakan, binatang-binatang hasil kloning aman untuk dikonsumsi. Namun demikian, pernyataan itu belum direkomendasikan kepada pemerintah.
         Masih dibutuhkan waktu beberapa lama sebelum Komisi Keamanan Pangan, yang berisi para ahli di tingkat lebih tinggi, mengumumkan kajian keamanan pangan hasil teknologi reproduksi yang kontroversial. Mungkinkah kesimpulan keamanan produk ternak hasil  kloningan itu telah didasarkan atas pengetahuan dan informasi ilmiah yang tersedia saat ini. Sampai kini masih berupa asumsi, yakni diasumsikan kadar keamanan mengonsumsi binatang hasil kloning sama dengan jenis dari ternak yang dipelihara secara konvensional. Apalagi hingga saat ini memang belum ada keluhan masyarakat dunia setelah mengonsumsi hewan hasil kloning.

Mendorong Efisiensi

         Setahun sebelumnya, Amerika Serikat pernah membuka pintu bagi produk susu dan daging sapi, babi, dan kambing/domba atau keturunannya hasil kloning ke dalam rantai suplai makanan. Namun beberapa saat kemudian, pro dan kontra baru muncul.
         Di Jepang, binatang hasil kloning dipertimbangkan sebagai teknologi kunci untuk efisiensi pada produksi ternak dengan dukungan Kementerian Kesehatan Jepang pada April 2008 yang meminta Komisi Keamanan Pangan untuk tetap terus mengkaji keamanan pangan dari beberapa jenis sumber konsumsi hewani.
         Pemerintah Jepang sempat menghadapi kritikan tajam warga menyusul beras impor yang membusuk dan sejumlah skandal pangan tahun lalu. Hal itu membuat warganya lebih berhati-hati lagi mengenai produk pangan termasuk binatang hasil kloning. Sejauh ini, Jepang berada di antara negara-negara penghasil binatang kloning seperti babi, sapi, dan kambing. Dan hingga kini, belum ada pernyataan keberatan atas pernyataan Komisi Keamanan Pangan Jepang tersebut.
         Secara produksi, teknologi reproduksi memang mampu mempercepat peningkatan populasi ternak. Tidak hanya itu, dengan rekayasa genetika mampu memacu tingkat produksi ternak menjadi lebih baik. Dan jika hasil evaluasi nantinya membuktikan produk-produk ternak hasil kloning aman dan layak dikonsumsi, memungkinkan untuk terus dikembangkan.
         Namun demikian, pesatnya bioteknologi yang semakin tumbuh secara cepat jauh lebih cepat dari kemampuan kita membuat tata laksana dan evaluasi keamanannya memang membuat kekhawatiran tersendiri. Kita semua hanya bisa berharap agar sebelum produk-produk ternak hasil kloning dipasarkan bebas, sudah ada evaluasi terlebih dahulu baik dari segi keamanan, sosial/etika dan agama agar tidak terjadi kontradiksi terutama di negara-negara yang agama seperti Indonesia.
 
Penulis
Dedy Winarto, S.Pt, M.Si - Dosen Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Purworejo.