Teori Disonansi Kognitif
Ditulis oleh Dwi Irawati, SE, M.Si   
Sabtu, 11 September 2010 12:16
Teori Disonansi Kognitif
Teori Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance) dibangun oleh Leon Festinger (1957), berkaitan dengan hubungan-hubungan antar kognisi. Kognisi, dapat diartikan sebagai “piece of knowledge”. Knowledge dapat berupa attitude, emosi, perilaku/tabiat, nilai, dan sebagainya. Sebagai contoh, knowledge bahwa anda menyukai warna hijau merupakan sebuah kognisi; knowledge adalah sesuatu yang membuat anda mengenali sesuatu (disebut kognisi). Manusia mempunyai sejumlah besar kognisi secara simultan dan kognisi tersebut membentuk sebuah hubungan yang irelevan, konsonan, atau disonan antara satu dengan lainnya. Disonansi adalah sebutan ketidakseimbangan dan konsonansi adalah sebutan untuk keseimbangan. Hubungan disonansi (dissonant relationship) berarti bahwa elemen-elemennya tidak seimbang satu dengan lainnya. Contoh dari hubungan disonan antarelemen adalah seorang Muslim yang mendukung hak perempuan untuk memilih melakukan aborsi. Dalam kasus ini, keyakinan keagamaan orang itu berkonflik dengan keyakinan politiknya mengenai aborsi. Hubungan tidak relevan (irrelevant relationship) ada ketika elemen-elemen tidak mengimplikasikan apa pun mengenai satu sama lain. Pentingnya disonansi kognitif bagi peneliti ditunjukkan dalam pernyataan Festinger bahwa ketidaknyaman yang disebabkan oleh disonansi akan mendorong terjadinya perubahan.

Cognitive Irrelevance (Irelevansi Kognitif)
Irelevansi kognitif hampir seluruhnya menggambarkan keluasan hubungan di antara kognisi-kognisi yang dimiliki manusia. Irelevansi secara sederhana diartikan sebagai dua kognisi yang tidak mempunyai hubungan satu sama lain. Dua konsonansi kognitif adalah apabila satu kognisi membentuk kognisi lain, atau, satu kognisi saling bersesuaian dengan kognisi yang lain. Manusia dapat mengambil banyak manfaat dari adanya konsonansi di antara kognisi-kognisinya. Bagaimana disonansi kognisi terjadi tidak banyak diketahui, apakah merupakan sifat alamiah organisme manusia, ataukah, disonansi kognisi terjadi selama proses sosialisasi. Meski demikian nampaknya manusia lebih memilih kognisi yang saling berhubungan dibandingkan yang tidak.
Dua kognisi dikatakan disonan apabila satu kognisi merupakan hasil dari kognisi-kognisi yang berbeda satu sama lain. Apa yang terjadi ketika manusia menemukan disonansi kognisi? Jawaban atas pertanyaan ini membentuk hipotesis awal dari teori Festinger. Seseorang yang mempunyai kognisi disonan atau kognisi divergen dikatakan berada dalam kondisi disonansi mental/emosional yang dikenal sebagai kondisi stress psikologis yang sangat mengganggu.
Untuk memahami seseorang berada dalam kondisi disonansi kognisi atau tidak, terlebih dahulu kita harus memahami faktor-faktor yang menyebabkan kecenderungan terjadinya dissonansi. Pertama, dissonansi meningkat ketika level inkongruensi/ketidaksesuaian di antara kognisi-kognisi meningkat. Kedua, dissonansi meningkat sebagai hasil dari meningkatnya jumlah kognisi yang tidak kongruen. Ketiga, dissonansi bersifat inversely proportional terhadap jumlah konsonansi kognisi individu. Keempat,  bobot relatifterhadap konsonansi dan disonansi kognisi dapat diubah menurut derajat kepentingannya dalam benak masing-masing individu.
Jika disonansi dikatakan sebagai kondisi yang tidak menyenangkan maka individu akan termotivasi untuk menguranginya. Maka kemudian dapat menerka apa yang mungkin dilakukan individu untuk mengurangi ketidaknyamanan yang dirasakannya yaitu
  • Mengubah kognisi
Apabila dua kognisi saling berbeda/bertentangan maka kita dapat melakukan upaya sederhana yaitu (1) mengubah satu kognisi agar konsisten dengan kognisi yang lain, atau, (2) mengubah tiap-tiap kognisi agar satu sama lain mempunyai arah yang sama.
  • Menambahkan kognisi
Apabila dua kognisi menimbulkan kecenderungan disonan tertentu, maka kecenderungan tersebut dapat dikurangi dengan cara menambahkan satu atau lebih kognisi konsonan.
  • Mengubah konotasi
Karena kognisi divergen dan kognisi konsonan harus dibobot menurut tingkat kepentingannya maka akan lebih bermanfaat apabila mengubah tingkat kepentingan dari berbagai kognisi.

Asumsi Teori Disonansi Kognitif

Teori disonansi kognitif menjelaskan mengenai keyakinan dan perilaku mengubah sikap. Teori ini berfokus pada efek inkonsistensi yang ada di antara kognisi-kognisi. Ada empat asumsi dasar teori disonansi kognitif yaitu
  1. Manusia mempunyai hasrat akan adanya konsistensi pada keyakinan, sikap, dan perilakunya. Asumsi ini menekankan sebuah model mengenai sifat dasar dari manusia yang mementingkan adanya stabilitas dan konsistensi. Teori ini menyatakan bahwa orang tidak akan menikmati inkonsistensi dalam pikiran dan keyakinan mereka. Sebaliknya, mereka akan mencari konsistensi.
  2. Disonansi diciptakan oleh inkonsistensi psikologis. Teori ini tidak berpegang pada konsistensi logis yang kaku. Sebaliknya teori ini merujuk pada fakta bahwa kognisi-kognisi harus tidak konsisten secara psikologis (dibandingkan tidak konsisten secara logis).
  3. Disonansi adalah perasaan tidak suka yang mendorong orang untuk melakukan tindakan-tindakan dengan dampak yang dapat diukur. Asumsi ini menyatakan bahwa ketika orang mengalami inkonsistensi psikologis maka disonansi tercipta dan menimbulkan perasan tidak suka. Jadi orang tidak senang berada dalam keadaan disonansi karena hal itu merupakan suatu keadaan yang tidak nyaman.
  4. Disonansi mendorong usaha untuk memperoleh konsonansi dan usaha untuk mengurangi disonansi Orang enerung untuk menghindari situasi yang menciptakan inkonsistensi dan berusaha mencari situasi yang mengembalikan konsistensi. Jadi, gambaran akan sifat dasar manusia yang membingkai teori ini adalah sifat manusia yang mencari konsistensi psikologis sebagai hasil dari rangsangan yang disebabkan oleh kondisi ketidaksenangan terhadap kognisi yang tidak konsisten.
Disonansi Kognitif dan Persepsi
Teori disonansi kognitif berkaitan dengan proses pemilihan terpaan (selective exposure), pemilihan perhatian (selective attention), pemilihan interpretasi (selective interpretation), dan pemilihan retensi (selective retention) karena teori ini memprediksi bahwa orang akan menghindari informasi yang meningkatkan disonansi. Proses perseptual merupakan dasar dari penghindaran ini.
  • Terpaan selektif (selective exposure)
Orang akan mencari informasi yang konsisten yang belum ada, untuk membantu mengurangi disonansi. Teori disonansi kognitif memprediksi bahwa orang akan menghindari informasi yang meningkatkan disonansi dan mencari informasi yang konsisten dengan sikap dan prilaku mereka.
  • Pemilihan perhatian (selective attention)
Merujuk pada melihat informasi secara konsisten begitu konsisten itu ada. Orang memperhatikan informasi dalam lingkungannya yang sesuai dengan sikap dan keyakinannya dan untuk sementara tidak menghiraukan informasi yang tidak konsisten.
  • Interpretasi selektif (selective interpretation)
Melibatkan penginterpretasian informasi yang ambigu sehingga menjadi konsisten. Dengan menggunakan interpretasi selektif kebanyakan orang menginterpretasi sikap teman dekatnya sesuai dengan sikap mereka sendiri daripada yang sebenarnya terjadi (Bescheid&Walster,1978).
  • Retensi selektif (selective retention)
Merujuk pada mengingat dan mempelajari informasi yang konsisten dengan kemampuannya yang lebih besar dibandingkan yang akan kita lakukan terhadap informasi yang tidak konsisten.
 
Email Penulis: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya