“STASIUN SAMPAH” Mengubah Sampah Menjadi Berkah
Ditulis oleh Tim PKM Pengabdian Masyarakat   
Kamis, 13 Juni 2019 08:47
  
Sampah merupakan salah satu masalah yang sulit untuk diatasi. Karena sampah banyak menimbulkan masalah baru misalnya saja seperti pencemaran lingkungan, menjadi sarang nyamuk dan juga menimbulkan banjir. Maka dari itu, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purworejo melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang pengabdian kepada masyarakat, yakni Sari Saraswati (Pendidikan Bahasa Inggris), Tri Wahyuningsih (Pendidikan Bahasa Inggris), Titi Apriana (Pendidikan Bahasa Inggris), dan Iis Nurul Izah (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia). Program ini di bawah bimbingan Abdul Ngafif, M. Pd. BI. selaku dosen program studi Pendidikan Bahasa Inggris membuat suatu ide yang bernama Stasiun Sampah.
 
Stasiun Sampah muncul sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan terhadap kondisi Desa Wingkoharjo, di mana desa tersebut merupakan desa yang berpotensi banjir setiap tahunnya, hal ini disebabkan karena banyaknya sampah yang ada di desa tersebut. Hal tersebut menenjadi salah satu faktor penyebab terjadinya banjir.
 
“Kami mendirikan Stasiun Sampah karena keprihatinan kami terhadap banyaknya sampah yang ada di Desa Wingkoharjo terutama sampah rumah tangga. Sampah tersebut tidak mudah terurai dan dapat menimbulkan banyak masalah misalnya saja seperti banjir yang hampir setiap tahun terjadi, menjadi sarang nyamuk, dan dapat merusak lingkungan karena sampah tersebut tidak mudah terurai.” Kata Sari Saraswati selaku ketua PKM.
 
Metode yang digunakan untuk pengolahan sampah tersebut yaitu Stasiun Sampah. Metode ini digunakan untuk mengolah dan memanfaatkan sampah di Desa Wingkoharjo, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo. Sampah yang digunakan untuk produksi yaitu sampah rumah tangga diantaranya sampah plastik kresek, sedotan, kaleng biskuit bekas, kardus bekas, bungkus kopi, dan botol sirup bekas. Hasil kerajinan dari sampah tersebut dimanfaatkan menjadi sebuah kerajinan yang bernilai ekonomis. Seperti plastik kresek dan sedotan bekas dibuat menjadi bunga, plastik kresek dan kardus bekas dibuat menjadi sandal, kaleng biskuit bekas dan botol sirup bekas dibuat menjadi pot dan vas bunga, dan bungkus kopi bekas dibuat menjadi dompet. 
 
“Sebelum membentuk Stasiun Sampah kami melakukan beberapa kali sosialisasi dan pelatihan kepada ibu-ibu PKK di desa tersebut. Mereka sangat antusias karena selama ini belum ada program seperti ini yang dilakukan di desa mereka. Karena kurangnya pengetahuan untuk mengolah sampah masyarakat selama ini hanya membakarnya tanpa mengolahnya menjadi bahan yang bermanfaat.” Kata Iis Nurul Izah.
 
“Kami sangat senang dengan program ini. Dengan adanya Stasiun Sampah kami harapkan masyarakat menjadi sadar akan pentingnya mengolah sampah, karena tidak hanya mengurangi jumlah sampah rumah tangga di lingkungan kami tetapi juga dapat meningkatkan perekonomian dengan cara memasarkan hasil kerajinan dari sampah.” Kata Ibu Sri Sugiyanti selaku ketua PKK Desa Wingkoharjo.
 
Stasiun Sampah mempunyai jargon yaitu mengubah sampah menjadi berkah maka dari itu, Ibu-ibu PKK dipilih menjadi sasaran dari kegiatan tersebut sebab sektor kerajinan tangan akan lebih cocok dikerjakan oleh ibu-ibu karena lebih ulet, sehingga program pengabdian ini bisa dilaksanakan secara berkelanjutan meskipun masa pelaksanaan PKM tersebut sudah selesai nantinya. Mereka berperan sebagai pemeran utama dalam upaya peningkatan daya kreativitas dan angka perekonomian di Desa Wingkoharjo. 

 

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterHari ini267
mod_vvisit_counterKemarin2261
mod_vvisit_counterMinggu ini267
mod_vvisit_counterBulan ini57570
Kami memiliki 29 tamu online