Pemanfaatan Eceng Gondok Sebagai Alternatif Pengganti Gas LPG
Ditulis oleh Tim PKM BINGGO   
Senin, 17 Juni 2019 08:21
Kelangkaan gas LPG diwaktu tertentu membuat masyarakat Desa Rowodadi kesulitan dalam memasak untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Atas dasar tersebut mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purworejo melakukan pemberdayaan masyarakat di Desa Rowodadi Kecamatan Grabag Kabupaten Purworejo melalui Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM). Nama Binggo merupakan singkatan dari “Biogas Eceng Gondok” Pemanfaatan Gulma Pengganggu Tanaman Sebagai Energi Alternatif. Pemberdayaan tersebut memanfaatkan potensi lingkungan sekitar yang memiliki eceng gondok melimpah, dengan harapan selain memberikan solusi kepada masyarakat, penduduk setempat mampu mengolah eceng gondok yang sering dianggap sebagai gulma menjadi nilai yang bermanfaat.

BINGGO (Biogas Eceng Gondok) digerakkan oleh empat mahasiswa yang tergabung dalam satu tim dan didampingi satu dosen pembimbing, yakni Arif Setyadi (Agribisnis), Rifky Muhammad Fadhil (Agribisnis), Aris Winarto (Ekonomi), Hanisa Putri Afifah (Psikologi) dan Arta Kusumaningrum S.P, M.Sc. (dosen pembimbing). Pemberdayaan tersebut mengikut sertakan pemuda karangtaruna sebagai penerus bangsa supaya lebih giat dan berperan aktif di lingkungan masyarakat.

Eceng gondok diolah menjadi biogas akan melalui beberapa tahap sehingga menghasilkan gas metana yang merupakan sumber penghasil biogas. Instalasi biogas menggunakan skala mikro, yakni menggunakan media drum sebagai digester (penampung eceng gondok dan penampung gas). Sebelum memasukkan eceng gondok ke media penampung, terlebih dahulu dicacah 1-2 cm dan ditambah air dengan perbandingan 1:1 serta ditambah kotoran sapi dan EM4. Eceng gondok sendiri memiliki kandungan 43% hemiselulosa dan selulosa sebesar 17%. Hemiselulosa akan dihidrolis menjadi glukosa oleh bakteri melalui proses anaerob (kedap udara), yang akan menghasilkan gas metan (CH4) dan karbondioksida (C02) sebagai biogas.

Pemberdayaan tersebut didukung oleh Kemenristek Dikti dan masyarakat setempat, karena telah melewati proses dan tahap seleksi Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) 2018. Sutarsih selaku istri dari Kepala Desa Rowodadi sangat mendukung program dari mahasiswa UMP karena selain dapat mengurangi biaya kebutuhan memasak, selain itu dapat membersihkan perairan yang dipenuhi eceng gondok menjadi energi hijau (3/4).

 

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterHari ini226
mod_vvisit_counterKemarin2261
mod_vvisit_counterMinggu ini226
mod_vvisit_counterBulan ini57529
Kami memiliki 60 tamu online