Safari Diklat Kewirausahaan Pengembang Agensia Hayati
Ditulis oleh Ir. H. Didik Widiyantono   
Senin, 07 Maret 2011 12:17
         Fokus kegiatan Universitas Muhammadiyah Purworejo dalam bidang pemberdayaan masyarakat khususnya petani telah dimulai sejak tahun 2007.  Langkah awal dilakukan dengan melakukan sosialisasi, diklat dan pendampingan pembuatan pupuk organik kocor. Pupuk organik kocor dibuat dengan sistem fermentasi sederhana, tetapi cukup sempurna, dengan waktu relatif lebih cepat, mudah dan murah. Penggunaannya relatif mudah dan jumlahnya tidak sebanyak pupuk organik padat. Kekuatan pupuk organik kocor salah satunya ada pada mikro organisme pengurai.
         Salah satu tindak lanjut kegiatan diklat pupuk organik kocor adalah pendampingan kelompok tani. Kelompok tani Desa Pepe Kecamatan Pituruh merupakan salah satu diantara kelompok tani yang didampingi. Kegigihan kelompok tani desa Pepe Kecamatan Pituruh dalam berinovasi dan mempraktekkan pupuk organik kocor, mendapat apresiasi dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, berupa panen perdana padi sawah hasil pemanfaatan pupuk organik kocor oleh Prof. Din Syamsuddin, M.A. pada tanggal 29 Juli 2009. Panen tersebut mengawali serangkaian kegiatan dalam rangka Gebyar Muktamar Satu Abad Muhammadiyah.
         Pupuk organik kocor memanfaatkan kotoran kambing sebagai bahan dasar perombakan oleh mikroorganisme lokal dari buah nanas yang mulai membusuk. Bahan-bahan tersebut difermentasi lebih kurang 2 (dua) minggu. Kambing tergolong ternak besar yang harganya terkadang tidak terjangkau oleh petani kecil. Oleh karena itu, Tim Pemberdayaan Masyarakat Unversitas Muhammadiyah Purworejo berinovasi dengan memanfaatkan kotoran kelinci. Saat ini sedang dikembangkan model pertanian semi organik terpadu berbasis agribisnis kelinci. Mahasiswa Prodi Pertanian pada tahun 2010 berhasil memenangi hibah Program Mahasiswa Wirausaha Dirjen Dikti Kemendiknas senilai Rp 19.500.000,00 untuk pengembangan usaha ternak terpadu berbasis agribisnis kelinci.
         UMP berupaya terus berupaya meningkatkan kualitas program pemberdayaan khususnya dalam bidang pertanian. Dengan keberhasilan penggunaan pupuk organik kocor, UMP berinisiatif memberikan pelatihan lain tentang teknologi pertanian organik yang ramah lingkungan antara lain tentang agensia hayati.  Ada dua materi agensia hayati yang telah dikenalkan yakni PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacterium) dan bakteri Coryne.
         Pelatihan tentang bakteri coryne telah dilakukan pada bulan Januari 2011 yang diberi nama Diklat Kewirausahaan Pengembang Agensia Hayati. Kegiatan ini pada awalnya diikuti oleh 30 orang mahasiswa program studi Agribisnis, yang sengaja dipersiapkan untuk menjadi wirausaha pengembang agensia hayati sekaligus pemandu diklat agensia hayati berikutnya. Agensia hayati adalah semua organisme meliputi spesies dari semua jenis serangga, bakteri, virus, dan organisme lainnya, yang dalam tahap perkembangannya dapat digunakan sebagai pengendali hama dan penyakit dalam proses produksi, pengelolaan hasil pertanian, dan sebagainya. Corynebacterium (bakteri coryne) sangat efektif untuk mengendalikan antara lain penyakit kresek dan hawar daun pada pertanaman padi, bercak daun Helminthosporium sp dan Cercospora sp pada pertanaman jagung.
         Diklat Kewirausahaan Pengembangan Agensia Hayati Angkatan ke-2 diikuti oleh Utusan Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Jawa Tengah,  Utusan Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Cabang Muhammadiyah se-kabupaten Purworejo, dan beberapa Penyuluh Pertanian Lapangan Kabupaten Purworejo. Kegiatan ini dibuka oleh Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah. Dalam amanatnya sebelum membuka acara tersebut, Ketua MPM PWM Jawa Tengah mengharapkan kegiatan seperti ini harus terus ditumbuhkembangkan dan ditindaklanjuti sampai ke lapangan. Jadi tidak hanya diselenggarakan oleh dan di lingkungan kampus saja, apalagi kegiatan tersebut berlabel Diklat Kewirausahaan. Kegiatan ini diikuti lebih kurang 120 peserta.
         Pasca-Diklat Agensia Hayati angkatan ke-2 ternyata banyak permintaan agar Tim Pemberdayaan Masyarakat UMP menyelengarakan diklat langsung ke lapangan. Sesuai dengan permintaan yang diterima, Tim Pemberdayaan Masyarakat UMP telah melakukan Safari Diklat Kewirausahaan Pengembang Agensia Hayati ke beberapa tempat yakni: (1) Kecamatan Gebang yang diikuti oleh Gapoktan se Kecamatan Gebang; (2) Desa Lubang Sampan Kecamatan Butuh yang dikuti oleh perwakilan Gapoktan dari Desa Lubang sampan, Kunir, dan Kedung Agung; (3) Lokasi KKN desa Butuh Kecamatan Butuh; (4) Lokasi KKN Desa Kunir Kecamatan Butuh; (5) Lokasi KKN Desa Kedondong Kecamatan Ngombol; (6) Lokasi KKN desa Wingkoharjo Kecamatan Ngombol; (7) Lokasi KKN desa Rowodadi Kecamatan Grabag yang diikuti oleh perwakilan kelompok tani dari desa Rowodadi, Tulusrejo, dan Wareng; dan (8) desa Bener Kecamatan Kepil Kabupaten Wonosobo.
         Tim Pemberdayaan Masyarakat UMP yang ditugasi sebagai narasumber Diklat Kewirausahaan Pengembang Agensia Hayati adalah Ir. H. Didik Widiyantono (Pembantu Rektor IV UMP - Bidang Kerja Sama) dan H. Dwi Susanto, S.Pd. dibantu oleh mahasiswa Prodi Agribisnis Semester IV sebagai pemandu kegiatan praktek agensia hayati yakni : Gunawan, Tri Santosa, Trian, Suhendrik, A Fridiansyah, Ari, dan Yanu Arifin. Materi yang diberikan antara lain tentang (1) Penerapan Teknologi Pertanian Semi Organik Terpadu sebagai upaya mewujudkan Kedaulatan Pangan Berkelanjutan dan ramah lingkungan dan (2) praktek pembuatan bakteri coryne dan atau pupuk kocor. Tim Pemberdayaan Masyarakat UMP di setiap desa yang menghendaki Diklat Coryne, selalu membantu membuatkan satu perangkat alat fermentor perbanyakan bakteri Coryne. Hal tersebut menjadi bukti bahwa peserta diklat tidak hanya menerima tambahan wawasan berupa teori tapi juga langsung mempraktekkannya. Kegiatan diklat ini akan terus dikembangkan ke beberapa kecamatan lainnya.
         Saat ini tim sedang menyiapkan materi agensia hayati lain yakni Beuveria, agensia hayati yang efektif untuk menekan perkembangan wereng cokelat. Beberapa waktu yang lalu tim telah menugasi beberapa mahasiswa Prodi Agribisnis UMP, untuk mengikuti Diklat Agensia Hayati Beuveria di Laboratorium Pengendalian Hama Penyakit (PHP) Banyumas.